Oleh: Titin Masturoh
Staf Pengajar Jurusan Pedalangan STSI Surakarta.
Abstrak
Wayang Sadat merupakan seni pertunjukan wayang kulit yang berisi tentang ajaran agama Islam. Wayang Sadat diciptakan sebagai evolusi dan wayang sebelumnya yaitu, wayang kulit, wayang gedog, wayang beber, yang ada sejak jaman Hindu dan jaman Islam di Jawa. Bentuk pertunjukan yang berdurasi empat jam, lakon atau isi cerita berasal dan sejarah Islam, media wayang Sadat menggunakan kulit yang dimodivikasi sesuai dengan nafas Islam, seperti pada kayon, karakter tokoh-tokoh, dan iringannya menggunakan seperangkat gamelan slendro dan pelog dengan bentuk vokal yang terinspirasi dari surat-surat dalam ayat suci AI-Qur'an, sedang antawacana menggunakan bahasa Jawa. Semua penyaji ternasuk dalang, pengrawit. sinden, menggunakan pakaian yang bernuansakan Islam. Wayang Sadat muncul di Klaten pada tahun 1986, kemudian berkembang hingga sekarang.
Kata Kunci: Sadat, Wayang, Evolusi, Islam
A. Pendahuluan
Pertunjukan wayang telah di kenal oleh masyarakat Jawa, sejak jaman Kauripan. Adapun bukti otentik yang menunjukkan telah adanya wayang kulit dapat kita baca pada kitab Arjuna Wiwaha karangan empu Kanwa, sarga V bait ke 9. Termasuk tembang sekar ageng Chekarini yang berbunyi:
Hana anonton ringgit manangis asekel mudha hidepan/huwus wruh towin yan walulang inukir molah angucap/Hatur ning wang tresneng wisaya malaka tar wihikama/Ritatwan yan maya sahana-hananing bha-wa siluman.
(Ada orang melihat wayang menangis sedih kusut pikiranya. sekalipun sudah tahu bahwa itu hanya kulit diukir dan dijamak, gerak-gerakan dan bercakap-cakap, seperti orang yang terikat pada hawa nafsu malah bebal dan dungu, hanya semu bahwa semua sifat yang ada hanyalah tipuan) (Soetrisna, 1980: 4 ).
Wayang pada zaman Erlangga kurang lebih tahun 1019-1049 M telah popu-ler, terbukti wayang dipergunakan untuk teladan hidup. Wayang telah lama ada meskipun lukisan wayang zaman itu tidak jelas.
Sesudah zaman Erlangga banyak lakon wayang yang diciptakan, misalnya bu-ku Kresnayana karangan empu Triguna, pada jaman raja Warsajaya raja Kediri sekitar tahun 1026 saka atau 1104 M.
Pada jaman Majapahit perkembangan wayang menjadi lebih bervariasi. Ba-nyak karya sastra yang digubah dan diciptakan sebagai dasar pertunjukan wayang, seperti Baratayudha karya empu Sedah dan empu Panuluh, Sastra Gending oleh Hayam Wuruk. Surutnya pengaruh, kerajaan Majapahit dan mulai berpengaruhnya kerajaan Demak, banyak karya sastra, gending, dan wayang diciptakan, baik oleh para wali maupun oleh raja Demak sendiri. Evolusi bentuk wayang sudah hampir menyerupai wayang jaman sekarang. Para wali menciptakan wayang sudah menggunakan tangan yang terpisah dari badan meskipun kebanyakan masih ber-tangan satu, gending-gending juga diciptakan (1977: 29-39). Wayang pada Jaman kerajaan Demak dibuat sebagai evolusi jaman sebelumnya, karena para wali me-mandang banyak lukisan wayang beber yang cenderung bertentangan dengan jiwa Islam untuk sarana dakwah atau siar agama Islam.
Pada jaman kerajaan Kartasura wayang diciptakan lebih lengkap dan kom-plek, seperti wayang dengan dua buah tangan, empat tangan kayon berbentuk gapuran. Pertunjukan wayang kemudian berkembang secara evolusi dengan berbagai keperluan menurut selera masyarakat pendukungnya.
Masalahnya bagaimanakah perubahan bentuk, lakon, iringan, dan struktur adegan wayang kulit dan sadat?
B. Pengaruh Kebudayaan Islam
Pengaruh kebudayaan Islam terhadap seni pertunjukan berlangsung tidak sebegitu intens bila dibandingkan dengan pengaruh Hindu. Syiar pada aqidah agama lebih tampak menonjol penetrasinya, dibandingkan dengan intervensinya pada bidang kesenian. Seperti seni teater wayang kulit, terjadi perubahan besar terhadap boneka wayang kulit, cerita dan bentuk sajiannya.
Bentuk wayang kulit purwa diduga memiliki bentuk awal seperti wayang kulit Bali sekarang. Hal ini amat logis, bila ditelusuri dari Hiponimi bentuk wayang kulit Bali sangat mirip dengan bentuk wayang pada relief candi-candi di Jawa Timur abad ke-11-15. Tokoh-tokoh pewayangan baik dari cerita Ramayana maupun Mahabarata banyak dipahatkan dalam posisi en profile (digambar dari sebelah atau terlihat dari pandangan samping), akan tetapi perbandingan proporsinya masih mengikuti proporsi tubuh manusia. Bentuk en profil lebih jelas mendapat pengaruh Islam. Hal ini lebih dimaksudkan untuk menyamarkan figur realitasnya kedalam bentuknya yang devormatif ornamentik. Bila dicermati dengan teliti boneka wayang kulit purwa menjadi "Aneh", yakni : Posisi muka tampak samping, bahu tampak depan. Torso tampak samping. Pangkal Kaki tampak depan dan posisi kaki mengangkang dengan posisi telapak kaki tegak ke atas. Tangan di buat sangat panjang dan leher di putus dengan semacam ragam hias semacam tumbuh-tumbuhan. Pengolahan bentuk boneka wayang kulit yang semacam ini, sangat mungkin dipengaruhi oleh aqidah dalam ajaran Islam, yang melarang penggambaran makluk dalam bentuk realistik secara utuh (Subandi, 1997 : 31).
Pada masa Islam, atau yang lebih dikenal dengan jaman Madya, seni orna-men tumbuh dengan mengesankan. Modifikasi boneka wayang kulit purwa. pencip-taan boneka wayang gedog dan wayang golek merupakan bukti dari aktifitas or-namentik. Pada masa kerajaan Islam Demak, modifikasi wayang dilakukan oleh para wali. diantaranya Sunan Bonang, Sunan Giri dan Sunan Kalijaga yang menggubah boneka wayang dari bahan kulit lembu berdasarkan berdasarkan wayang Be-ber warisan zaman Majapahit (Soemahatmoko.l928:134). "Islamisasi" bentuk boneka wayang kulit terlihat pada penulisan cerita-cerita karangan seperti Bima suci dan Dewa Ruci yang mengambil dasar filsafah Islami.
Dalam babad ila-ila Jawa ,diberitakan bahwa pada tahun 836 ditan-dai dengan Suryasengkala: "Angrasa gunaning pangesthi", wayang yang merupakan bayangan para leluhur mula-mula digambar di atas daun lontar. Pada tahun 998 (Bujuangga anrus gapura), cerita carangan sudah mulai ditulis orang dan tahun 1109 (Anrus muluk nunggal boma). wayang sudah mulai dipergelarkan dalam suatu pertunjukan.
Tahun 1129 (Anrus katon ratuning janma), wayang mulai digambar di atas kertas dan berbentuk wayang beber dan sudah menggunakan medium sungging. Tahun 1242 (Asta dadi panembahaning nata). wayang sudah dirinci kedalam bentuk-bentuk tertentu dalam sungingan yang lebih representatif untuk dimain-kan dalam suatu pertunjukan (Soemohatmoko, 1928:133-134).]
Pada masa Brawijaya V, wayang beber di gubah menjadi wayang krucil atau wayang klithik, wayang dibuat dari bahan kayu dalam bentuk yang terpisah-pisah sebagai suatu figur boneka yang dapat digerak-gerakkan. Semasa pemerintahan kerajaan Islam Demak, wayang warisan Majapahit dikreasi ulang oleh para wali, untuk disesuaikan dengan aqidah islamiah. Selanjutnya para wali masing-masing membuat kreasi wayang dari bahan kulit. Sebagai contoh misalnya tokoh-tokoh pewayangan seperti kera di ciptakan oleh sunan Giri; gunungan oleh Sunan De-mak: kuda ,gajah. dan rapongan oleh Sunan Bonang; sedang ide pementasan dengan kelir, blencong, batang pisang dan pemakaian iringan gamelan datang dari Sunan Kalijaga (Soemahatmoko,1928: 134-135). Pada periode berikutnya wayang kulit ini dimainkan dengan menggunakan cerita Purwa atau parwa, sehingga dise-but wayang purwa.
Proses modifikasi boneka wayang kulit purwa ini. secara teratur dilakukan sejak kerajaan demak, kemudian Pajang , Mataram, Surakarta Yogyakarta dan Mangkunegaran (Soemohatmoko, 1928: 131-140). Karyawan masterpeace olah cip-ta wayang kulit purwa ini adalah; (l) Kyai Pramukanya di cipta pada masa Pajang, (2) Kyai Kadung dan kyai Mangu pada masa kerajaan Surakarta, (3) Kyai Jimat dan kyai Sabet di cipta pada masa mangkunagaran. Jelasnya wayang merupakan karya agung bangsa Indonesia, yang mencapai bentuk yang klasik, dan digunakan sebagai 'Babon' penciptaan wayang kulit purwa hingga sekarang.
Selain boneka wayang kulit purwa (Ramayana dan Mahabarata), diciptakan pula boneka wayang kidang kencana dan wayang gedog oleh Sunan Giri. Wayang kidang kencana sebenarnya bentuk lain dari wayang kulit purwa dalam ukuran dan ornamentasi yang berbeda. Wayang gedog, adalah teater baru dengan bentuk sa-jian mirip wayang purwa, namun menggunakan cerita dari episode panji (Serat Panji), dengan 'seting historis" kediri dan daha. Bentuk boneka wayang gedog sa-ngat mirip dengan wayang kulit purwa. Dari kemiripannya. sangat mungkin bahwa wayang gedog digubah berdasar kaidah-kaidah yang terdapat pada boneka wa-yang kulit purwa. Selain itu Sunan Kudus menciptakan wayang golek dengan ceri-ta yang diangkat dari serat Menak (Soemohatmoko,1928' 135). Serat babad Ila-ila yang ditulis Soemohatmoko ini ternyata memiliki kebenaran historis yang cu-kup memadai. Brandon, menjelaskan bahwa:
Some of other puppet forms grew out of wayang kulit....the Sunan of Giri is supossed to have created wayang gedog in 1553 and sunan of Kudus wayang Golek in 1584. In wayang gedog. shadow puppets tell the Panji cicle of stories; and in Javanese wayang golek. doll figure (Golek means doli) are manipulated to tell stories of Menak cycle which center on the exploits of Islamic hero Amir hamzah (Brandon, 1967;44).
C. Proses Evolusi Multilinier Wayang Kulit dan Wayang Sadat
1. Pengertian Wayang Sadat
Pengertian Wayang Sadat, Wayong Sadat bersal dari Kata 'Wayang " dan "Sadat". Wayang dalam bahasa Jawa berarti bayangan. Akar kata dari "wayang" adalah "Yang" yang berarti selalu bergerak dari tempat satu ketempat lain. Oleh karena boneka-boneka ya.ng digunakan dalam. pertunjukan itu berbayangan atau memberi bayang-bayang maka dinamakan wayang. Adapun 'Sadat" berasal dari 'Syahadat” yaitu merupakan rukun Islam yang harus dilaksanakan pertama kali. Kata 'Syahadat" bermakna kesaksian terhadap Tuhan dan Nabi Muhammad di-singkat menjadi “Sadat" dan dijadikan sebagai salah satu nama pertunjukan wa-yang kulit, yaitu wayang sadat. Sadat dapat diartikan sebagai suatu jaman sesu-dah berakhirnya kerajaan Majapahit yaitu pada saat Para Wali menyebar luaskan ajaran Islam di Indonesia. Tetapi kata Sadat mengandung pengertian juga seba-gai sarana dakwah atau Tablig. Berdasarkan keterangan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa wayang Sadat berarti salah satu jenis pertunjukan wayang yang bertujuan untuk memberi pendidikan khususnya Islam.
Kecintaan terhadap wayang Sadat memunculkan karya wayang baru yang oleh kreatornya di sebut wayang Sadat. Wayang Sadat gaya baru dibuat oleh Suryadi guru bahasa Inggris Sekolah Menengah Pertama (SMP) Muhammadiyah di kabupaten Klaten, Propinsi jawa Tengah. Setelah melalui proses pembuatan se-lama puluhan tahun, pada tahun 1986 untuk pertama kali wayang sadat di pertun-jukkan (Suryadi, wawancara tanggal 20 September 2001).
2. Suryadi Sebagai Dalang dan Wayang Sadat Sebagai Sarana Dakwah
Semenjak remaja Suryadi sudah akrap dengan kesenian wayang namun ayahnya mengekang. Darah seni yang mengalir dalam diri Suryadi tidak dapat pa-dam begitu saja. Profesinya sebagai guru menyebabkan ia banyak membaca baik bacaan tentang keagamaan maupun ilmu ilmu sosial lainnya. Ketekunan didalam membaca merangsang Suryadi untuk mencoba membuat cerita pendek dalam ba-hasa Jawa. Pada tahun 1971 ia mencoba mengarang cerita pendek barbahasa Jawa dengan judul Bengi Iku Ana Pesta yang diikutkan dalam lomba oleh majalah ming-guan Dharma Kandha berhasil meraih juara IV. Hal ini memacu Suryadi untuk membuat karya sastra. Pada tahun 1978 dengan karyanya berjudul Putra Desa berhasil meraih juara I pada lomba penulisan roman tingkat nasional yang diadakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Jakarta. Setelah itu mengalir karya-karyanya yang semuanya mendapatkan penghargaan, keberhasilan demi ke-berhasilan yang diraih Suryadi membuat dirinya semakin percaya diri. Rasa per-caya diri dan semangatnyalah membuat Suryadi pantang menyerah ia mulai me-nonton pertunjukan wayang kulit, seperti yang pernah dilakukan pada masa rema-ja. Pada tahun 1971 ia-menonton pertunjukan wayang Menak di desa Tambak , Kali Kotes Klaten. Merasa tidak puas, dari kenyataan yang dilihat tidak demikian, hal inilah yang membuatnya semakin bertekat membuat wayang baru yang murni ber-cirikan keislaman. Pada tahun 1973 Suryadi mulai menekuni seni karawitan dengan cara menjadi pengamat, pendengar dan sekaligus praktek secara otodi-dak. Banyak buku-buku kesenian wayang dan sejarah perjuangan para wali dalam berdakwah. Gagasannya membuat wayang dakwah tidak segera terwujud karena berbagai kendala (wawancara, tanggal 26 Agustus 2001). Setelah kendala itu (ma-salah kerumitan membuat wayang , iringan, gending dapat diatasi ternyata keluarganya sangat mendorong ide itu bahkan istrinya pun ikut terjun menjadi swa-rawati.Setelah semuanya dirasa cukup mulailah ia belajar mendalang dengan cara otodidag. Pada tahun 1985 Suryadi mementaskan pakeliran wayang sadat yang bernafaskan Islam untuk yang pertama kalinya didesa Mireng, Klaten. dengan la-kon Pandanaran.
D. Perubahan Wayang Kulit dan Wayang Sadat
1. Tokoh dan Sumber Cerita Wayang
a. Wayang Kulit
Tokoh-tokoh yang tampil pada pakeliran wayang kulit diambilkan dari to-koh-tokoh yang terdapat pada tokoh Ramayana dan Mahabarata versi Jawa Pe-dalangan. Sumber cerita wayang purwa diambilkan dari serat Ramayana, Serat Mahabarata dan cerita-cerita Jawa asli. Contoh : Dumadine pari, Serat Kanda dan sebagainya, digubah menjadi beberapa episode kemudian ditampilkan lewat lakon yang dikehendaki.
b. Wayang Sadat
Wayang sadat identik dengan wayang Islam. Untuk itu tokoh-tokohnya ten-tulah orang-orang yang berperan di dalam penyebaran agama Islam. Tokoh-tokoh itu biasanya diambilkan dari para wali, seperti; Sunan Kali Jaga, Sunan Ampel, Sunan Kudus, Sunan Gunung Jati. Tokoh lain yang berasal dari Arab atau sebalik-nya justru tokoh lokal di suatu kadipaten.
Sumber cerita Wayang Sadat banyak dan berfariasi tergantung lakon yang dipentaskan. Sumber cerita itu diantaranya". sejarah nasional, sejarah likal, ceri-ta rakyat, babat Tanah Jawi, babad Demak serta babad-babad lainya. Sumber ce-rita yang berbentuk teks itu digubah menjadi episode-episode yang kemudian di-tuangkan ke dalam lakon (wawancara dengan Suryadi. 28 Desember 2001).
2. Proses Pembuatan Wayang
Boneka wayang yang digunakan sebagai wahana menfisualisasikan cerita da-lam wayang sadat dibuat dari kulit kerbau ditatahn disungging sebagaimana umumnya wayang kulit purwa. Melihat ada warna sunggingan sesuai dengan pernyataan Bastomi, bahwa dalam seni rupa warna menambah kegairahan kerja para seniman dan kepuasan para pengamat sebab warna selamanya menyenangkan, memberi nilai estetis dan menjelaskan isi (1992: 62). Ukuran panjang tangannya juga seperti wayang kulit purwa sampai di bawah lutut. Panjang hidung mengacu pada bentuk hidung wayang kulit purwa tetapi corekan pangkal hidung dibawa ke atas, sedangkan wayang kulit purwa dibawa ke samping. Walaupun secara umum mengacu pada bentuk wayang kulit purwa namun muncul kesan yang berbeda. Se-niman kreatif tidak pernah membuang begitu saja warisan budaya yang masih hi-dup, karena masih relevan sebagai titik tolak menciptakan bentuk-bentuk baru. Selain itu Sedyawati mengatakan, bahwa corak-corak yang berbeda, sikap-sikap yang berbeda serta fungsi-fungsi yang berbeda dalam olah seni dapat memper-luas pandang (1981:64). Perbedaan itu tampaknya disebabkan oleh ciri-ciri seba-gai berikut:
a. pangkal hidung (bentuk tatahan) naik ke atas, bentuk mengacu pada wayang beber.
b. Semua jari tangan nampak secara utuh dengan posisi ngrayung
c. Semua wayang berbaju baik berlengan panjang berlengan pendek
d. Wayang Putren (putri) memakai kerudung (jilbab)
e. Khusus tokoh ulama/wali dan beberapa tokoh raja bersepatu, hal ini me-nunjukkan bahwa tokoh tersebut memiliki sosial keagamaan lebih tinggi dari yang lain.
f. Pelukisan bentuk surban diusahakan mendekati kenyataan.
Sejak awal hingga kini Suryadi baru membuat wayang Sadat sejumlah 50 buah. pembuatannya diserahkan kepada penatah penyungging wayang kulit purwa dari desa Mireng dan Tembayat, keduanya merupakan kerabat dalang wa-yang kulit purwa mereka adalah Suwardi Gudel dan Jumatna. Desainnya dibuat oleh Suryadi berpangkal pada cerita-cerita babad Islam di Indonesia. (Murtana dkk,l997:36)
3. Kayon dan Gunungan
Wayang Kulit purwa terdapat tiga kayon berbentuk tradisi:
1. Kayon Gapuran
2. Kayon Blumbangan
3. Kayon Alas-alasan
Kayon Gapuran di dalamnya terdapat tatahan penjaga gapuran kraton yaitu dua raksasa, samping kanan Cingkura Bala samping kiri Bala Upata. Di atas gapu-ran ada hiasan Kala Mangkara yang ada di tengah-tenqah pohon besar samping kanan dan kiri ada Lar. Hiasan samping kanan pohon besar ada binatang ma-can, lutung, kera, den merak. Samping kiri ada banteng, lutung, kera dan merak.
Kayon Blumbangan, di dalam sendang berisi ikan. Di bawah sendang sebelah kanan ada Bengieh sebelah kiri ada Bengieh (seperti anjing).
Kayon alas-alasan kreasi baru tahun 1980 di dalamnya ada hiasan Bayu, Ce-leng. Banteng, Macan, Lutung, Yuyu, Lintah dan burung.
b. Wayang Sadat
Wayang atau boneka dalam wayang Sadat terdapat tiga buah kayon, ben-tuk kayon itu seperti kayon dalam wayang kulit. Akan tetapi isi pokok tata sung-gingannya berbeda. Satu kayon tata sunggingannya kaligrafi berbahasa Arab dari atas ke bawah secara berurutan dapat di baca Allah, syahadad. Kaligrafi itu me-ngandung ajaran pendidikan filsafat hidup, sebagaimana tersirat dalam surat Ibrahim, bahwa manusia sebagai wakil Allah di dunia diberi wewenang seluas-luasnya dalam batas kewajaran untuk memanfaatkan isi alam guna mencapai ke-bahagiaan di akherat nanti (Yunus, 19S4: 234). Wayang atau boneka pun dilukis-kan dengan busana bercirikan Islam, antara lain bentuk pakaiannya berjubah, bentuk ikat kepala berupa surban dan bentuk pakaian bowah berupa sarung. Hal ini secara tidak langsung memberi teladan atau pendidikan kepada penonton agar mereka meniru pakaian cirikhas Islam.
Kayon yang kedua masih didominasi oleh motif tatah sungging kayon wayang kulit purwa hanya pada bagian tengah bawah berisi bangunan masjid. Pada per-tunjukan wayang Sadat ditancapkan pada akhir simpingan kanan. Adapun kayon yang ketiga seperti halnya kayon yang kedua, hanya pada bagian tengah bawah bergambar kuncup bunga Teratai yang mekar. Kayon ini ditancapkan pada akhir simpingan kiri.
Bentuk wayang putren (wanita) secara umum masih berkiblat pada wayang kulit purwa, baik bentuk raut muka, ukuran besar kecil panjang pendek ta-ngan dan samparan. Pada samparannya lebih pendek dari pada tokoh wanita wa-yang kulit purwa. Adapun wayang putren yang telah dibuat sebanyak delapan buah terdiri atas: tokoh Limbuk, Cangik, Putri Cempa, Nyi Ageng Tingkir, Nyi Ageng Pengging, Nyi Ageng Pandanaran dan dua tokoh wanita wakil masyarakat desa.
Tokoh ulama/wali dan raja alusan. Bentuk secara umum wayang ulama alusan mengacu bentuk alusan tokoh wayang kulit purwa dengan ciri yang menonjol yaitu wajahnya menunduk, posisi kaki tegak lurus, ada yang memakai hiasan kain pada bagian pantat berbentuk bokongan dan ada yang tidak bokongan dalam wayang kulit Sadat tokoh alusan yang menggunakan hiasan pantat berbentuk bokongan diantaranya Trenggana dan Raden Patah. Yang tidak menggunakan bokongan ada-lah Sunal Ampel. Trenggono dan Raden Patah memakai selendang seperti tokoh Rama dan Laksmana dalam wayang kulit purwa.
Tokoh ulama/wali gagahan. Bentuk wayang dan karakternya mirip tokoh ga-gahan wayang kulit purwa yang bercirikan posisi kaki tampak seperti melangkah. Dalam wayang kulit Sadat tokoh wayang yang tergolong gagahan misalnya: Sunan Bonang, Sunan Kudus, Sunan Kalijaga. Patih Reksapraja. Wilatikta, Pandaran, Sugata. Wanagati dan Brandal.
1. Iringan
a. Wayang Kulit
Iringan Wayang Purwa menggunakan perangkat gamelan slendro dan pelog. Penyajian wayang purwa membutuhkan waktu sekitar 8 sampai 9 jam (bentuk se-malam). Bentuk gendingnya: Ayak-ayakan, srepeg, ketawang; ladrangan, ketuk ka-lih kerep struktur gendingnya: a. ketuk kalih kerep: buka, merong, umpak inggah, inggah b. ladrang: buka langsung gending. c. playon: sampak, gangsaran, kemuda, srepegan.
b. Wayang Sadat
Iringan wayang sadat menggunakan perangkat gamelan ageng laras slendro dan pelog. Penyajiannya membutuhkan waktu sekitar 4 jam. Bentuk gendingya masih menggunakan lancaran, ladrang, gending ketuk loro kerep, gangsaran, sre-peg, sampak, ayak-ayak dan kemuda. Struktur gendingnya: terdiri dari merong, ciblon, dan inggah. Gending-gending tersebut disajikan menurut pembagian waktu (patet) yaitu gending-gending slendro patet nem/pelog lima disajikan pada awal pertunjukan durasi waktu satu setengah jam. Gending-gending slendro patet sa-nga/pelog nem disajikan pada tengah pertunjukan durasi waktu 2 jam. Gending-gending slendro patet manyura/pelog barang disajikan pada akhir pertunjukan durasi waktu 1 jam .
Gending yang digunakan kebanyakan berlaras pelog baik gending-gending susunan baru maupun yang tradisi. Dalam pergelaran wayang sadat sampai saat ini gending-gending yang disajikan baru 20 buah gending antara lain 1. Ayak-ayak pelog lima. 2. Lancaran Salam pelog nem. 3. Lancaran Jamilah pelog campur. 4. Lancaran Sapu Jagat pelog lima. 5. Lancaran Wisata Jawa Tengah 6. Lancaran Pemuda Islam 7. Lancaran Siaga. 8. Lacaran Kreta Dawa. 9. Srepeg Sadat 10. Ladrang Rahayu 11. Ladrang Ganep. 12. Ladrang Istighfar. 13. Ladrang Hamdalah 14. Ladrang Arkhanuriliman. 15 Ladrang Rembulan Gumlilang. 16. ladrang reran-tang. 17. Ladrang Kembang MIati. 18. Lagu Salawat Badriyah. 19. Lagu Khamdalah. 20. Kemuda. Gending-gending tersebut meru-pakan gending pokok dalam wayang Sadat itupun kurang satu jenis gending yaitu gending untuk mengiringi suasana sereng atau tegang (gending suwuk grupak ). Dengan demikian masih banyak kekurangan repertoar gending untuk melengkapi kekurangan itu akhirnya meminjam gending-gending yang digunakan dalam wayang kulit purwa.
Kalau di perhatikan gending-gending yang dipergunakan dalam pakeliran wayang Sadat isinya juga mengandung pendidikan yaitu pendidikan agama Islam contoh.
Syair Gending Sapu Jagat
Robbana ya robbana - robbana ya rabbana
robbana ya Allah, robbana atina viddun-ya,
hasanah wa fill akhirati hasanatan ya Allah wa qina adzabannar.
Dhuh Gusti Pangeran kula, Dhuh Gusti Pangeran kawula.
Kula nyuwun wonten ndonya kasaenan,
Dumugi akhirat kasaenan,
Lan mugi-mugi tinebihna saking siksa neraka,
Oooooo saking siksa neraka
(Gending tersebut mengandung unsur pendidikan iman kepada Allah).
Gerongan yang digunakan dalam pakeliran Wayang Sadat juga mengandung unsur pendidikan iman kepada Allah). Contoh:
1. Gerongan Srepeg Sadat:
Nenem rukune iman.
ingkang dhingin kudu eling maring Allah,
kaping pindhone malaikat,
ping telu kitab suci,
kaping pat para rasul,
kaping limo dino akhir,
kaping nenem takdir ala lawan becik.
2. Gerongan Tropongan:
a. Elinga siro manungsa -ja lali
temenana nggonmu ngaji
mumpung durung ketekanan - kridhane malaikat juru pati.
b. Luwih lara luwih susah - rasane wong manggon aneng neraka
klabang kures kalajengking - medeni klabang geni ula geni.
c. Rante geni gada geni- gunane
cawisane wong kang dosa
gumampang dhawuh pangeran – sembra
gumampang dhawuh pangeran.
d. Luwih mulya luwih mukti - rasane
wong mapan aneng swarga
samubarang dencawisi - turone
kasur babut pramudani
e. Cawisane wong kang bekti - dhedhepe
mring Allah kang maha suci
Laa ilaha illal Loh - al Malik
Muhammadar Rosululloh
2. Gawang
a. WayangKulit
Gawang (bingkai layar) dalam wayang kulit purwa, beberapa model diukir bagian atasnya (ukiran ular naga) terdapat pula yang polos tanpa hiasan. Ukurannya panjangnya relatif berkisar 250 cm dan 500 cm
b. Wayang Kulit Sadat
Gawang merupakan bingkai kelir, gawang tersebut berwarna coklat berukuran 180 cm x 350 cm. Ditengah tengah gawang bagian atas diberi hiasan tulisan arab berbentuk kaligrafi yang berbunyi sebagai berikut:
Ud'u illa sabilli rab- bika bil khikmati
Ungkapan di atas di kutip dari Al Qur-an surat An-Nahl ayat 25 yang artinya ajaklah semua orang yang mengikuti jalan Tuhanmu yang penuh kebijaksanaan. Maksud ayat tersebut adalah Islam mengajak dan mengajarkan umat manusia untuk memeluk agama Tuhan, dengan memeluk agama Tuhan diharapkan umat manusia dapat menjalani hidupnya secara bijak, berlandaskan ilmu khitmat dan pengajaran yang baik.
3. Dalang
a. Wayang Kuiit Purwa
Dalang wayang kulit purwa biasanya menggunakan pakaian biskap jangkep maksudnya kepala blangkon, baju biskap (warna selera dalang), epek timang, belakang terdapat keris, bawah jarit (batik) serta alas kaki slop.
b. Wayang Kulit Sadat
Suryadi selaku dalang yang juga seorang mubaligh, dengan tekun mendalami ajaran-ajaran Islam sehingga memudahkannya memasukkan beberapa aspek pendidikan kedalam pertunjukannya. Sikap keislamanya juga ditampakkan dengan cara berpakaian bercirikan khas Islam yaitu mengenakan Jubah (Baju panjang sampai di bawah lutut dan berlengan panjang) bersorban (ikat kepala berwarna putih (kain dengan lebar 75 cm, panjang 150 cm yang diikatkan pada kepala )). Pakaian bawah berupa sarung seperti yang dipakai para wali pada jaman dahulu. Secara tidak langsung ini memberi ajaran pendidikan tentang cara berpakaian yang baik dan sopan secara Islami.
4. Penabuh
a. Wayang Kulit
Penabuh/pengiring gamelan wayang kulit purwa pakaian jangkep (komplit), terkadang ada juga yang tidak jangkep, perbedaanya terletak pada penggunakan keris di pinggang.
b. Wayang Kulit Sadat
Penabuh gamelan yang mengiringi wayang Sadat juga berpakaian seperti dalangya yaitu mengenakan jubah, bersorban, dan bersarung semuanya mema-kai motif kotak -kotak. Demikian juga para suarawatinya mereka mengenakan kebaya dan kerudung. Ini mengandung unsur pendidikan bahwa kaum wanita, hendaknya berpakaian menutup aurat.
5. Struktur Adegan
a. Wayang Kulit
Maksud struktur adegan adalah urutan adegan pada setiap wayang kulit. Pada umumnya setiap gaya pedalangan baik Yogyakarta maupun Surakarta mempunyai struktur adegan yang berbeda. Khusus untuk wayang kulit purwa gaya Surakarta garap semalam, menurut Soetrisna yang dikutip Bambang Murtiyasa, bahwa struktur wayang kulit, sebagai berikut:
1. Bagian pathet nem
- Adegan pertama biasanya kerajaan, adalah raja yang sedang membicarakan situasi negara dan pemerintahan. Muncul permasalahan yang harus dipecahkan, dilanjudkan dengan adegan babak unjal atau datangnya tamu, di akhir bedholan.
- Adegan Gapuran yaitu adegan raja yang berhenti di gapura masuk kedhaton.
- Adegan kedatonan, yaitu adegan istri raja dan para dayang sedang menunggu raja pulang ke kedaton. Setelah raja datang dan menceritakan permasalahan yang dihadapi, dilanjudkan adegan raja berdoa.
- Adegan Pasebonjawi, adegan ini dirangkai dengan adegan budhalan, jaranan atau kapalan, pocapan kereta atau gajah dan atau perang ampyak.
- Adegan kedua disebut sabrangan, ada dua macam yaitu sabrangan alus dan sabrangan raksasa.
- Adegan perang gagal, yaitu adegan perang antara kelompok adegan pertama dengan kelompok adegan sabrangan. Sebelum dilanjudkan pathet sanga, apabila lakonnya panjang diseling dengan adegan Sabrang rangkep.
2. Bagian Pathet Sanga
- Adegan gara-gara dilanjudkan dengan adegan satria di tengah hutan, atau adegan pretapan, atau adegan negara. Ketiga adegan terakhir dipilih salah satu sesuai dengan kebutuhan lakon. Adegan pathet sanga ini biasanya dirangkai dengan adegan alas-alasan dan adegan perang kembang.
- Adegan sintren, adegan ini dapat berlangsung sekali atau lebih tergan-tung kebutuhan.
- Adegan perang sintren, atau dalam istilah pedalangan dinamakan Sampak tanggung
3. Bagian Pathet Manyura
- Adegan manyura ini bisa adegan negara atau di mana saja serta dapat terjadi beberapa kali tergantung kebutuhan lakon.
- Adegan perang sampak manyura merupakan klimaks dari lakon dan merupakan penyelesaian masalah.
- Adegan Perang brubuh, yaitu perang terakhir dari lakon.
- Adegan tancap kayon, yang kadang-kadang diisi dengan golekan atau gambyongan (Murtiyasa,1982;28)
Struktur Adegan Wayang Sadat ( lakon Ki Ageng Pengging)
1. Adegan perjalanan, garis besar cerita:
Seorang pengikut Sunan Kudus mendahului perjalanan menuju desa Pengging. Di tengah jalan dia bertemu dengan seorang laki-laki dan seorang wanita. Kedua orang itu pengikut Sunan Kudus menanyakan nama desa tempat ia bertemu. Lelaki yang ditanya menjelaskan bahwa desa itu belum ada namanya. Selain itu memberi keterangan bahwa banyak penduduk yang tidak berani keluar rumah karena semalam mendengar suara harimau. Karena inilah pengikut Sunan Kudus memberi nama desa itu Sima. la juga menjelaskan bahwa suara itu bukan suara harimau tapi suara Bendhe puasaka Kasultanan Demak yang ditabuh, suaranya bagaikan suara harimau mengaung-ngaung.
Setelah itu pengikut Sunan Kudus melanjutkan perjalanannya. Disuatu desa dia bertemu dengan seorang lelaki. Kepadanya ia menanyakan arah ke desa Pengging serta nama desa yang dilewatinya itu. Ia mendapat keterangan bahwa desa itu belum ada namanya. Karena ia diberi air minum yang dapat menghilangkan dahaganya, maka desa itu diberi nama Banyudana yang artinya berderma air.
2. Adegan Kadipaten Pengging, garis besar cerita:
Ki Ageng Pengging dihadap oleh para santrinya menerima kedatangan Nyi Ageng Tingkir. Sesuai dengan janjinya, Ki Ageng Pengging menyerahkan Karebet anaknya yang saat itu telah berumur tiga tahun kepada Nyi Ageng Tingkir. Penyerahan itu dipilih waktu bersamaan dengan upacara khataman. Pada upacara khataman tersebut diselenggarakan pertunjukan kesenian berupa tari dan wayang sadat.
Sunan Kudus datang ke Pengging saat pendadaran saat berlangsung. Beliau mengingatkan akan janji yang pernah diucapkan oleh Ki Ageng Pengging tiga tahun yang lalu, bahwa Ki Ageng akan menghadap Sultan Demak. Ternyata Ki Ageng tetap tidak mau menepati janjinya, dengan alasan bahwa Ki Ageng bukan Adipati lagi, tetapi hanya rakyat biasa yang tidak perlu menghadap kepada raja. Sunan Kudus dapat menerima alasan Ki Ageng Pengging. Tetapi Sultan Trenggana tidak dapat menerima alasan itu dan beliau bermaksud ingin menghukum mati Ki Ageng Pengging lewat Sunan Kudus. Dikarenakan tuduhan yang diberikan kepada Ki Ageng cukup berat yaitu : pertama ia dianggap ingkar janji tidak menghadap raja. Kedua ia dituduh menyebarkan ajaran Syehk Siti Jenar.
Sunan Kudus melihat dan beranggapan bahwa apa yang dikerjakan Ki Ageng tersebut tidak menyimpang dari ajaran Islam yang baik dan benar yaitu Sunah wal Jamaah, maka Sunan Kudus mengambil kebijaksanaan dengan melukai atau menggores siku tangan ki ageng serta melepas jubah yang terkena darah. Selain itu Ki Ageng disarankan untuk mengganti nama dan meninggalkan daerah Pengging serta supaya mendirikan padepokon baru. Para santri mengira Ki Ageng Pengging telah wafat, karena menemukan baju jubah Ki Ageng yang penuh darah.
3. Adegan Padhukuhan Tingkir, garis besor cerita:
Mas Karebet atau Jaka Tingkir diasuh Ki dan Nyi Ageng Tingkir hingga dewasa. Pada saat itu. Sultan Demak memerintahkan Jaka Tingkir untuk memimpin tes penerimaan prajurit baru Demak. Nyi Ageng Tingkir mengutus Kasan mengantarkannya.
4. Adegan Kasultanan Demak, garis besar cerita:
Sultan Trenggana mengadakan musyawarah bersama dengan Sunan Giri, Sunan Drajat dan Raden Patah untuk menentukan rancangan penerimaan prajurit Demak dalam rangka menghadapi serangan musuh dari Barat. Mereka sepakat segera mengadakan tes penerimaan prajurit baru yang dipimpin oleh Jaka Tingkir. Dalam menyelenggarakan itu ada salah satu persyaratan yang tidak boleh dilanggar, baik oleh pengetes maupun oleh peserta tes. yaitu tidak boleh bertindak yang menyebabkan kematian.
Salah seorang peserta tes ada yang sangat sakti, bernama Dadung Awuk. Hal itu membuat Jaka Tingkir kerepotan dan terpaksa menggunakan senjata Sadad. sehingga menyebabkan Dadung Awuk meninggal dunia. Tindakan Jaka Tingkir ini tidak berkenan di hati Sultan Trenggana, sehingga beliau menjatuhkan hukuman kepada Jaka Tingkir supaya pergi meninggalkan kerajaan Demak. Di tengah perjalanan Jaka Tingkir bertemu dengan Sunan Kudus. Sunan Kudus memberitahukan kepada Jaka Tingkir bahwa orang tuanya masih hidup dan menyuruh Jaka Tingkir agar mencarinya.
5. Adegan Padukuhan Butuh, garis besar cerita :
Ki Ageng dan Nyi Ageng Pengging telah lama tinggal di padukuhan Butuh. Setiap saat mereka ingat kepada Maskarebet anaknya. Pada suatu hari, seorang santri memberitahukan ada seorang jejaka pingsan di tengah ladang. Setelah jejaka itu dibawa kehadapan Ki Ageng Pengging, Nyi Ageng Pengging menangis dan memastikan bahwa jejaka itu adalah Maskarebet anaknya. Pertemuan dengan anaknya oleh Ki Ageng dan Nyi Ageng Pengging sangat disukuri dengar. mengucapkan hamdalah.
E. Tahap-Tahap Evolusi Multilinier Wayang Kulit dan Wayang Sadat
Wayang Kulit Wayang Sadat
1. Tokoh dan sumber cerita
- Tokoh diambil dari cerita Ramayana dan Mahabarata versi Jawa Pedalangan
- Sumber cerita diambil dari serat Ramayana dan cerita asli Jawa.
Contoh : Dumadine pari, serat Kanda
2. Boneka dan kayon
Boneka dalam wayang kulit purwa jum lahnya di STSI kurang lebih 1500 - 2000 buah, contoh : untuk sempel boneka Putren (Sinta ) rambut terurai tetapi kembenan pakai dodot dan jarit raut muka menunduk.
- Kunthi Tua rambut disanggul, pakai baju Kebaya lengan panjang berjarit dan dodot raut muka menunduk.
- Kayon berlukiskan gapura dijaga dua kayon berlukis¬kan gapura dijaga dua raksasa, di atasnya ada pohon, ada kalamangmangkara dan ada hiasan beberapa binatang.
- Kayon berlukiskan sendang berisi ikan di bawah sen-dang ada dua bengieg.
- Kayon alas-alasan di dalam-nya ada lukisan binatang dan beberapa burung
- Kayon alas-alasan di dalam-nya ada lukisan binatang dan beberapa burung
- Kayon berlukiskan gapura dijaga dua raksasa, di atas¬nya ada pohon, ada kalamang mangkara dan ada hiasan beberapa binatang.
- Kayon berlukiskan sendang berisi ikan di bawah sen¬dang ada dua bengieh
- Kayon alas-alasan di dalam-nya ada lukisan binatang dan beberapa burung.
3. Iringan dan ganding
- Penyajianya kurang lebih 9 jam
Bentuk gending: ayak-ayakan srepeg, ke tawang, ladrangan, kethuk kalih kerep-Struktur gending: kethuk kalih kerep : buka, merong, umpak inggah, inggah Ladrang: buka lang- sung gending playon: sampak, gangsaran, kemuda ,srepegan
- Sumber sair diambil dari se-rat-serat(Bratayuda kekawin) dan ada yang menyusun sendiri
1. Tokoh dan sumber cerita
- tokoh diambil dari para wali seperti: Sunan Bonang, Sunan Kalijaga. Tokoh Ada yang berasal dari Arab dan tokoh Lokal.
- Sumber cerita diambil dari sejarah nasional, Babad Demak, Babad Tanah Jawi
2. Boneka dan kayon.
- Boneka putren memakai keru dung (jilbab).
- Semua wayang berbaju baik panjang maupun pendek.
- Tokoh wali / ulama bersepatu dan bersor ban.
- semua jari tangan nampak se-cara utuh dengan posisi ngra-yung.
- pangkal hidung naik ke atas. Kayon bertatah sungging kaligrafi (bahasa Arab).
- Kayon berlukisan bangunan masjid.
- Kayon berlukisan kuncup bu-
- nga teratai yang diapit bunga teratai mekar.
3. Iringan dan gending
- Penyajian kurang lebih 4 jam bentuk gending dan penggunaan gending sama wayang purwa sesuai dengan
- Pembagian waktu ( pathet nem, pathet Sanga, pathet Manyura) tetapi syairnya
Berbeda diambilkan dari buku ajaran Islam buku taukhit, fiqih dan hadist) dsb.
contoh: ladrang istigfar, ladrang arkhanu Liman, lancaran sapu jagat
Wayang Kulit Wayang Sadat
4. Gawang.
yang kecil kurang lebih 250 cm x 500cm
5. Pakaian dalang-Beskap komplit
(blangkon, beskap jarit, Epek timang, keris, dan slop)
6. Pakaian pengiring beskap komplit dan ada yang tidak komplit (tanpa keris)
7. Pakaian swarawati: berjarit, rok panjang
8. fungsi: sebagai sarana ritual dan hiburan
9. Sifat: sakral atau semi sacral. 4. Gawang
Ukuran gawang pada wayang Sadat 180 cm x 350 cm, di tengah gawang atas ada tulisan kaligrafi.
5. Pakaian dalang: surban.piyama. sarung Kotak-kotak, sandal/slop
6. Pakaian pengiring::
surban,piyoma, Sarung kotak- kotak, sandal/slop
7. Pakaian swarawati: berjarit, dan berjilban
8. Fungsi : sebagai sarana untuk berdakwah dan hiburan
9. Sifat: sakral, semi sakral
F. Kesimpulan
Perjalanan kebudayaan Indonesia yang mendapat pengaruh dari kebudayaan yang berbeda mengakibatkan terjadinya pelapisan kebudayaan. Fakta etnografi menunjukkan telah terjadi pelapisan kebudayaan itu, dan muaranya mengakibatkan terjadinya evolusi bentuk, fungsi dan orientasi kesenian, khususnya kesenian tradisional Jawa. Perubahan evolusi kesenian Jawa, berjalan sesuai dengan kondisi waktu dan tingkat perkembangan tata kehidupan sosiokultural masyarakat Jawa itu (Edi Sedyawati, 1983: vii - ix ).
Pengaruh India abad 1 s/d 15 bentuk wayang yang digambar di atas daun Lontar, yang merupakan manifestasi dari gambaran bayang-bayang nenek moyang. wayang lontar belum dimainkan. Tradisi lontar beralih ke tradisi kertas, bentuk wayang digambar dan disungging warna sederhana (merah-putih-hitam) di atas kertas berupa wayang beber. Wayang beber sudah dimainkan dengan cerita yang diambil dari serat Panji. Tokoh-tokoh wayang Mahabarata dan Ramayana dipahatkan pada relief candi-candi di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. Bentuk sajiannya dan estetika fisual diolah dalam bentuk yang masih sederhana. Fungsi pertunjukan wayang bersifat ritual magis, dan legitimasi raja. Sifat ritual termanifestasikan dalam bentuk yang jelas.
Pengaruh Islam (abad 15) tradisi menggambar wayang di atas kertas (wayang beber) menjadi seni rakyat dan wayang mengalami perubahan bentuk, teknik media ungkap visual. Wayang beber digubah menjadi bentuk wayang kulit dan dibuat dalam bentuk tokoh-tokoh yang berdiri sendiri dalam bentuknya yang unprofil. Teknik ungkap visual menggunakan teknik tatah dan sungging. Mencul wayang kulit purwa, wayang madya, wayang kidang kencana, wayang klitik, wayang krucil, wayang gedog. wayang golek, topeng panji dan wayang sadat. Bentuk sajiannya dan pengolahan estetika menjadi lebih komplek. Fungsi pertunjukan wayang bersifat ritual, magis, dan saran hiburan. Sifat ritual termanifestasikan dalam bentuk yang jelas.
Pada jaman moderen ini pertunjukan wayang kulit masih dipandang sebagai media penyebaran ajaran agama, setidaknya oleh Suryadi, seorang dalang wayang sadat dari desa Mireng kecamatan Trucuk, kabupaten Klaten. Wayang Sadat sengaja dibuatnya pada sekitar tahun 1980-an untuk menyebarkan ajaran Islam. Oleh karena itu seluruh pendukung pentas, dalang dan para pendukung iringan dan tatah sungging busana figur-figur wayangnya meniru busana muslim.
Garapan lakon Ki Ageng Pengging dalam wayang sadat porsi ajaran Islam sangat tebal. Ajaran Islam tercermin pada janturan., sulukan, gerongan, dan dialog para tokoh pelaku cerita yang mencerminkan empat dari rukun iman ( iman kepada Allah, iman kepada Kitab, iman kepada Rasul, dan iman kepada hari akhir). Setelah diidentifikasi semua ajaran Islam yang ditengahkan dalang lakon Ki Ageng Pengging itu dapat digolongkan kedalam dua pokok ajaran Islam yaitu ketaukhiddan dan kefikihan.
Daftar Pustaka
Amir Rasim. 1991. Nilai- nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
Asyiq K.M., 1975. Riwayat Ringkas Nabi dan Rasul, Surabaya: Usaha Nasional.
Brandon James. R., 1967 Theatre in Southeast Asia .Cambridge, Massachusetts: Harvat University Press.
Geetz. C. 1989. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa, Jakarta: Pustaka Jaya.
Gazalba, Sidi,1988. Asas Kebudayaan Islam. Jakarta: Bulan Bintang
Carneiro. Robert L. 1973 "The Four Faces of Evolution" dalam : Honingman. J.J (ed.) Hand Book of Social and Cultural Antropolgy. Chicago: Rand Mc-Nally and Company
Kaplan. D. 2000, Teori Budaya, Jogjakarta : Putaka Pelajar Offset.
Sedyowati. Edi. 1985. "Pengaruh India Pada Kesenian Jawa: Suatu Tinjauan Proses Akulturasi" dalam Soedarsana (ed.). Pengaruh India, Isalam dan Barat dalam Proses Pembentukan Kebudayaan Jawa. Jogjakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan R.I.
-----------------------1983 " Meninjau Kesenian Indonesia' suatu pengantar dalam Edi Sedyawati dan Djoko Damono (ed) Seni dalam Masyarakat Indonesia, Bungarampai. Jakarta: Gramedia.
Koentjaraningrat. 1981. Sejarah Teori Antropolgi I. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Kuntowijoyo. 1987, Budaya dan Masyarakat. Jogjakarta: Tiara Wacana
Murtama, Nyoman dkk. 1997. Wayang Sadat Sebuah Studi Tentang Dakwah dalam Lakon Ki Ageng Pengging, Hasil penelitian kelompok, Dibiayai oleh Proyek Operasi Perawatan Fasilitas STSI Surakarta.
Murtiyoso. B. 1992. Pengetahuan Pedalangan. Surakarta; ASKI.Proyek Sub. IKI
Soedarsono. R.M. t.th. Pengantar Sejarah Kesenian. Jogjakarta diterbitkan untuk bahan kuliah kalangan sendiri.
Soemahatmoko, l928.Babad Ila-ila Jawi. Tran. Surasa, Semarang Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Proyek Pengembangan Perpustakaan Jawa Tengah.
Subandi, 1997. 'Perubahan dan Pemisahan Kesenian Tradisional Jawa dalam Perspektif Teori Evolusi Suatu Studi Pada Seni PertunJukan Tradisional Jawa”. Makalah Diskusi Seni Rupa.
Yunus,Mahmud.l972. Kamus Arab Indonesia. Jakarta: Yayasan Penyeleng-gara/Penafsir Alqur'an.
(Harmonia Vol IV No 3 2003)

